Konflik Mali

 on Senin, 25 Januari 2016  

Mungkin konflik di Mali kurang seberapa dikenal, tapi belakangan saat teror Paris attack ada yang menghubung hubungkan kejadian itu - salah satunya - dengan keterlibatan Perancis di konflik Mali. berangkat dari situ, keknya gak ada salahnya untuk sedikit melihat latar belakang terjadinya dan serba serbi konflik Mali tersebut. mudah mudahan thread ini dapat menjadi bacaan yang bermanfaat, thanks.
Konflik Mali

Pengantar

Mali adalah negara bekas jajahan Prancis yang setelah merdeka pada tahun 1960an memutuskan menjadi negara demokrasi. Namun ada ganjalan antara Mali Utara yang didominasi suku Tuareg dengan Mali Selatan, Mali Utara berkeinginan untuk memisahkan diri dengan dimotori oleh MNLA ( National Movement for the Liberation of Azawad) yang bertujuan membentuk negara Azawad di wilayah luas Mali Utara.

gerakan MNLA tersebut didukung oleh Ansar Dine dan juga Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM). Gerakan tersebut berhasil merebut wilayah yang luas dan membuat pasukan Mali keteteran, namun .. setelah gerakan tersebut mulai menampakkan hasil, kongsi MNLA dan Ansar Dine + AQIM buyar dan wilayah wilayah yang berhasil direbut sebelumnya sebagian besar diambil alih oleh Ansar Dine + AQIM.

Keadaan mulai kacau saat pertempuran terjadi di berbagai tempat oleh berbagai pihak yang diperburuk dengan penerapan hukum hukum ala Al Qaeda secara keras di Utara sehingga mengakibatkan gelombang pengungsi baik dari kelompok Muslim sendiri dan tentu saja yang bukan Muslim.

Sebelum keadaan makin kacau dan korban makin bertambah, pemerintah resmi Mali (di Selatan) dan kebanyakan rakyat biasa berharap adanya pertolongan pihak luar negeri untuk membantu menstabilkan kondisi di negara tersebut. Dan panggilan tersebut terpenuhi kala Prancis dan negara Afrika lain mengirim pasukannya, sayang hal tersebut juga menimbulkan kontroversi baru.

Konflik Mali Utara

Sejak 17 Januari 2012, sejumlah kelompok pemberontak melancarkan kampanye terhadap pemerintah Mali untuk meraih kemerdekaan atau otonomi lebih luas bagi Mali utara, sebuah wilayah yang dikenal dengan nama Azawad. Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad (MNLA), organisasi yang berjuang menjadikan Azawad tanah air bagi suku Tuareg, berhasil mengambil alih kawasan tersebut pada April 2012.

MNLA awalnya dibantu oleh kelompok Islamis Ansar Dine. Setelah militer Mali diusir dari Azawad, Ansar Dine mulai memberlakukan hukum syariah ketat. Sejak itu, MNLA terus bertentangan dan bertempur melawan Ansar Dine dan kelompok Islamis lain bernama Gerakan Persatuan dan Jihad di Afrika Barat (MOJWA), pecahan dari Al-Qaeda di Maghreb Islam.

Pada 22 Maret 2012, Presiden Amadou Toumani Touré digulingkan dalam sebuah kudeta atas penanganannya terhadap krisis ini, sebulan sebelum pemilu presiden dilaksanakan.Tentara desertir yang menyebut diri Komite Nasional untuk Restorasi Demokrasi dan Negara (CNRDR) mengambil alih dan menghapus konstitusi Mali.

Akibat ketidakstabilan pasca-kudeta, tiga kota terbesar di Mali utara—Kidal, Gao, dan Timbuktu—dikuasai pemberontak selama tiga hari berturut-turut.Tanggal 5 April 2012, setelah pendudukan Douentza, MNLA mengatakan bahwa mereka telah memenuhi misi dan mengakhiri serangannya. Keesokan harinya, mereka menyatakan kemerdekaan Azawad dari Mali.

Setelah berakhirnya pertempuran dengan Angkatan Darat Mali, MNLA dan Islamis terus menyatukan visi mereka yang saling bertentangan untuk negara baru tersebut.Pada tanggal 27 Juni, Islamis MOJWA bertempur dengan MNLA dalam Pertempuran Gao, melukai sekretaris jenderal MNLA Bilal Ag Acherif dan mengambil alih kota Gao.

Pada 17 Juli 2012, MNLA kehilangan kontrol atas kota-kota di Mali utara yang saat ini diambil alih Islamis.

Pada tanggal 11 Januari 2013, Presiden Perancis François Hollande mengatakan bahwa ia telah menyetujui permintaan bantuan dari pemerintah Mali dan "pasukan Perancis telah memberi bantuan kepada Mali"

Jaringan Islam Radikal

Ternyata kudeta itu malah menguntungkan kaum Tuareg. Paling tidak pada awalnya. Dalam vakum kekuasaan pasca kudeta, kaum Tuareg membangun aliansi dengan jaringan teror „Al Qaida di Islam Magribi“ (AQIM).

Tapi kaum Tuareg yang sudah puluhan tahun merasa dilupakan oleh pemerintah Mali di Bamako, kemudian dikhianati oleh AQIM yang gencar meluaskan kekuasaannya sendiri. Kelompok Tuareg akhirnya kehilangan pengaruh.

Keberhasilam AQIM beserta kelompok mitranya, seperti "Ansar Dine“ membangun pengaruh juga akibat dari lemahnya pemerintahan di kawasan itu. AQIM berhasil menggalang dana lewat perdagangan narkoba dan penculikan.

"Banyak pemerintah yang bersedia membayar uang tebusan tinggi untuk keselamatan warganya“. Begitu Peter Pham, pakar Afrika Atlantic Council, sebuah think-tank AS. "Dengan strategi itu jaringan teror AQIM berhasil mengumpulkan jutaan dollar”.

Tewasnya penguasa Libya Muamar al Khadafi juga memperkuat jaringan teror itu. Menyandang perlengkapan tempur, para serdadu bayaran dari kawasan Sahel yang telah lama bekerja untuk Khadaffi terpaksa pulang kampung. Sebagian persenjataan itu di jual kepada kelompok gerilyawan.

"Sejak pecahnya perang di Libya, persenjataan kelompok teroris Mali bertambah– selain itu banyak bekas serdadu yang mencari pekerjaan,“ demikian pakar studi Islam, Pham. Ia khawatir bahwa pengaruh AQIM akan terus berkembang ke negara-negara tetangga di kawasan itu.

"Bila terjadi, kita bakal melihat berkembangnya kawasan di mana hukum tidak berlaku", tuturnya. "Penculikan dan perdagangan besar-besaran narkoba akan semakin menjadi."

Tanda-tanda negara yang gagal

Mali utara miskin, tidak ada apapun di sana. Begitu dikatakan mantan presiden Mali, Amadou Toumani Touré kepada harian "Le Monde diplomatique": tTk ada jalanan, tak ada rumah sakit, sekolah, maupun sumur dan mata air, tidak ada infrastruktur untuk kehidupan sehari-hari.

"Orang muda dari kawasan ini tidak punya peluang untuk menikah misalnya, atau untuk hidup berkecukupan, kecuali bila mencuri mobil atau bergabung dengan kelompok penyelundup." Tantangan mereka bertambah berat, karena banyak kelompok Islam radikal seperti AQIM yang menggunakan kawasan ini sebagai persembunyian.

Pasukan perdamaian yang dikirim PBB akhir 2012, tak bisa berbuat banyak menghadapi masalah yang bertubi-tubi ini. Wakil Komisaris Luar Negeri di parlemen Jerman, Hans-Ulrich Klose (SPD) menilai operasi seperti itu harus didefinisikan secara rinci. "Apakah tujuannya untuk mengusir kaki tangan AQIM dari kawasan itu? Bila ya, mereka akan didesak ke mana?"

Militer Terpecah

Perancis selama ini mendukung pemerintah Mali untuk melawan kaum gerilyawan Islamis. Namun tidak jelas bagaimana negara seperti Perancis bisa berpartisipasi dalam tugas yang begitu berbahaya dan rumit.

Pengalaman di Afghanistan menunjukkan betapa sulitnya melakukan intervensi di suatu kawasan yang menyediakan banyak peluang persembunyian.

Meski begitu banyak warga Mali yang mengharapkan negara-negara Eropa melibatkan diri. Begitu Charlotte Heyl dari GIGA-Institut. Menurut dia, ini karena rakyat Mali pesimis bahwa militer negaranya bisa menyelesaikan masalah ini.

"Ada konflik internal dalam tubuh militer Mali, karenanya kesatuan militer tercabik dan terpecah belah“. Begitu tambah Charlotte Heyl, yang juga skeptis menanggapi peningkatan pendidikan anggota militer Mali.

masquit0 via kaskus.co.id
Konflik Mali 4.5 5 Tante Amel Senin, 25 Januari 2016 Mungkin konflik di Mali kurang seberapa dikenal, tapi belakangan saat teror Paris attack ada yang menghubung hubungkan kejadian itu - salah ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.